Pesantren Kilat Anak Jalanan: Program Literasi Langkat

Ramadan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, membawa warna baru bagi anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu di lampu merah dan pasar tradisional. Jika biasanya bulan suci hanya diisi dengan aktivitas mencari nafkah tambahan, tahun ini sekelompok mahasiswa menginisiasi pesantren kilat anak jalanan. Program ini dirancang bukan sekadar untuk memberikan pemahaman agama secara teoritis, melainkan sebagai sebuah jembatan besar bagi mereka untuk memasuki dunia pendidikan yang lebih luas. Melalui pendekatan yang humanis, mahasiswa mencoba mengubah persepsi bahwa belajar adalah hal yang membosankan dan kaku.

Fokus utama dalam kegiatan ini adalah program literasi. Mahasiswa menyadari bahwa banyak dari anak jalanan di Langkat yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan membaca dan menulis karena putus sekolah. Oleh karena itu, kurikulum pesantren kilat ini dimodifikasi dengan menyelipkan sesi membaca nyaring, menulis surat untuk orang tua, hingga bercerita (storytelling) dengan menggunakan buku-buku bergambar yang menarik. Ini adalah upaya untuk membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap dunia luar yang selama ini tertutup oleh kerasnya kehidupan di jalanan.

Lokasi kegiatan dipilih di ruang-ruang terbuka hijau dan balai desa yang ramah anak agar peserta tidak merasa terintimidasi. Mahasiswa bertindak sebagai kakak asuh, menciptakan suasana belajar yang penuh canda namun tetap memiliki target capaian yang jelas. Dalam pesantren kilat, nilai-nilai spiritualitas diajarkan melalui praktik langsung, seperti tata cara berwudhu yang benar dan menghafal doa-doa pendek yang mudah diterapkan sehari-hari. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah satu arah yang sering kali membuat anak-anak bosan.

Pentingnya literasi dalam program ini juga mencakup literasi digital dan moral. Anak-anak diajak untuk memahami mana informasi yang baik dan mana yang buruk di tengah gempuran teknologi yang mulai menyentuh kehidupan mereka. Mahasiswa di Langkat ingin memastikan bahwa meskipun mereka tumbuh di jalanan, mentalitas dan cara berpikir mereka tetaplah beradab. Inisiatif anak jalanan untuk ikut serta secara rutin dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada haus akan ilmu pengetahuan yang selama ini tidak mendapatkan wadah yang tepat.

Author: